*/lovers in japan
Disclaimer

This skin is best viewed in Google Chrome with a resolution of 1024 x 768. Looks averagely okay in Mozilla Firefox. Other browsers unsure . You can replace this 'disclaimer' into your own , or remove it :B . Credits must be left untouched, thank you !

Profile

Occae et harumb bet theap. Est praesent luptatum. Ha! Bis nostrud exercitation ullam mmodo consequet. duis aute in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. At vver eos et accusam dignissum qui blandit est praesent luptatum delenit aigue excepteur sint occae.

Affiliates

Friend Friend Friend Friend Friend Friend Friend Friend Friend Friend Friend Friend Friend

tagboard & archives

Your Cbox here.



karawang-bekasi
Thursday, 25 February 2010 @ 19:30
KARAWANG BEKASI
 
By: Chairil Anwar
Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan

Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang-kenanglah kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayat

Berilah kami arti
Berjagalah terus di garsi batas pernyataan dan impian

Kenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

(Yang Terempas dan Yang Putus, Pustaka Rakyat, 1949)

Labels: